Selamat hari lahir ibu…

Saat hari ini, setiap kata ‘semoga’ berubah menjadi ‘seandainya’.

Insha Allah, keyakinan meneguhkan kami bahwa engkau selalu berbahagia. Dan memang tugas kami untuk selalu mengirimkan doa di setiap penghujung malam.

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa fu’anha. Aamiin..

 

Idle

Bukankah sering kukatakan.. “aku bisa menunggu”

Haha,, sebenarnya postingan ini berniat mau berjudul ‘riba’. Tapi ya, karena ilmu yang masih remah-remah, jadinya mau ngegalau aja di postingan ini.

Beberapa bulan terakhir ini, aku cukup concern dengan manajemen keuangan *lemparponi*. Tapi, prinsip menabung atau investasi syariah mah, insh Allah udah dari duluuu. Berkat ajaran ibuku juga. Nah, semakin lama kan semakin kompleks dong yang namanya masalah keuangan. Semacam ngutang gitu *xixi*.

Gimana ya, keraguan itu memang identik dengan kurangnya ilmu. Gini,, para pakar keuangan syariah kan susah payaahh membuat manajemen perbankan dan investasi syariah, walaupun memang mau ga mau harus diakui dana tersebut penggunaannya masih bercampur. Jadi, saya cukup percaya dengan sistem yang dibuat oleh bank syariah.

Masalahnya adalah,,, kalau kpr gimane broo? Dulu saya mah masih fine-fine aja. Ko sekarang galau lagi. Ah, ilmuu nyaaa nanggunggg..

Betewe, ini postingan loncat-loncat. Yowes, saya harus istirahat, besok excited mau ngebandung.. *cucian numpuk jengggg*

Gunung Hati

Sabtu pagi ini ummi berpesan ‘Hati itu ibarat gunung, hanya memiliki satu puncak tertinggi, yaitu ketaatan kepadaNya. Niscaya segala apapun upaya untuk mencapai puncak itu akan membuat puncak-puncak bohongan lain menjadi tak begitu berharga.’

Sebenarnya yang pengen gw tulis disini tentang stress sih, ahaha. Tau deh, makin tambah usia, makin banyak tahu tentang masalah dan orang-orang yang punya masalah. Serius qaqa! Di satu sisi gw bersyukur sih, compare sama ‘mereka’ hidup gw begitu penuh berkah yang sering ga keliatan sama gw sendiri. Eh, tapi hidup orang lain juga gw melihatnya penuh berkah juga yang memang pantas buat perjalanannya.

‘Penyakit’ mental itu aneh memang ya, tak terlihat tapi terasa. Sejauh ini gw merasa ada beberapa yang sikap nya jadi berubah, okelah asumsi gw mereka kena stress, macam-macam lah alasannya dan gw bisa ngerti sih kenapa hal-hal semacam itu bisa membuat kadar tension urat nya bertambah. Cuma ya gitu, bingung juga mau gimana bantu nya, secara ngobrol aja bisa jadi ga enak hati lama-lama. ehehe.

Jangan disangka gw ga pernah ganti personality *apadeh*. Sepertinya setiap orang bisa punya ‘dark age’ sendiri. Ya jujur lah ya, waktu ibu gw pergi tiba-tiba emang terasa dunia sudah berubah, susah banget yang namanya cerita. Sayangnya, gw ga tau kalau itu dinamakan ‘ga sabar’ haha.. Akibatnya, makan ga terkendali walaupun ga lapar, anti-social, mudah tersinggung, dan ujung-ujungnya mengacaukan diri sendiri. Sembuhnya gimana?! hmm gw lupa sih kenapa, tapi sepertinya ibarat tubuh punya sistem imun dari penyakit, begitu juga mental kita punya sistem imun dari penyakit-penyakit yang merongrong.

Trus apa hubungannya sama judul kali ini?!

Yaudah, gw hubung-hubungin aja deh. Beruntungnya case yang gw lihat ini memang menimpa pada orang yang memiliki iman *hazek*. Gw tau seberapa besar nya perjuangan mereka dan tahu juga seberapa besar latihan pendakian mencapai puncak hati yang hanya bersandar padaNya. Ah, melihat mereka emang membuat masalah gw seakan remah-remah rempeyek yang enak kalau dimakan sama nasi anget.

So, aku berharap untuk selalu bisa mendoakan kalian supaya tetap di jalanNya dan mendapatkan apa yang kalian harapkan. Keep seterong gals!

Ramadhan ke-25

Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan pada satu hambaNya yang dongdong ini untuk bisa (hampir) sampai ke ramadhannya yang ke-25 *kalau ga salah hitung*. Yeah! Cheerrs!!

Dan salah satu yang keren dari rejeki yang Allah kasih, saya masih dapet kesempatan ikut pengajian sama ibu-ibu sekitar sini tentang (bukan) persiapan menyambut Ramadhan, ahahaha,, maksudnya harusnya kita tak lagi di level ‘persiapan’ tapi di level ‘kesigapan’, sedikit sentilan nasihat ruhiyahnya harus langsung sigap ON gituu. Ada istilah Arabnya, tapi ya berhubung yang nulis ini kemampuan Arab nya masih nol pake super jadi kata-katanya diganti dengan makna yang semoga hampir mendekati.

Bahwasanya nikmat yang patut disyukuri setiap hari adalah ketika mampu menghadiri majelis ilmu dan masih mampu beribadah secara paripurna

Kalimat itu yang pertama kali terlintas di pikiran saya ketika acara dimulai dan dibuka oleh moderator. Ternyata ibu-ibu ini diminta untuk mengaji terlebih dahulu sebelumnya, kalau kata orang Betawi, hebat bener ni emak-emak! Kagak ada matinye!

Kemudian pembicara mulai bercerita tentang doa-doa yang terkenal menjelang Ramadhan, misal doa pada bulan Rajab yang katanya hadits nya dhaif (lemah) tapi bukan berarti tidak bisa diamalkan, ada juga doa ketika melihat hilal (bulan). Ada satu doa yang menurut saya cukup netral dan baik. ‘Rasulullah mengajarkan doa ini kepada kami ketika Ramadhan tiba : “Ya Allah selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan selamatkanlah dia menjadi pahala untukku” (HR Thabrani)’.

Walaupun sebagian besar dari apa yang beliau sampaikan sudah pernah saya dengar, tetapi majelis ilmu seperti itu memang memiliki kekuatan tersendiri. Ah, remah-remah rempeyek seperti saya mah emang sering merasa semangat hanya ketika diingatkan, huks. Tapi jadi ingat manusia sekaliber sahabat Rasul saja punya problema yang serupa, yahh walaupun ‘down’ imannya mereka jauh lebih mending kalau dibandingkan saya dikala semangat. Harapan itu masih ada…

Sidang isbat tadi sore memutuskan puasa tahun ini mulai di hari Kamis. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Mohon maaf untuk segala sikap baik yang sengaja dan tidak disengaja. Baca doa lagi ah..

“Ya Allah selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan selamatkanlah dia menjadi pahala untukku”

Gunung atau Pantai?

Sepertinya banyak orang sering menanyakan pertanyaan seperti ini, entah sebagai basa-basi atau memang cuma nanya (apa bedanya oii). Tapi ternyata jawabannya sangat bervariasi dan bahkan yang ga bisa saya bayangkan sekalipun alasannya. Tentu saja saya pernah ditanya ‘lebih suka mana? Gunung atau Pantai?’. Jawabannya ya tentu saja : dua-duanya, hehe.

Continue reading

Ada satu doa yang ingin selalu kupanjatkan. Meminta ketenangan hati yang menambah keimanan. Apalagi yang kau perlukan?!
Sebuah ketenangan yang dijanjikan mampu membuat gelombang menjadi dorongan, membuat duri menjadi seni.

Tuan telur selalu merutuki panasnya air yang membuat ia keras hati. Sedangkan di lain tempat, si kentang merasa lemah remuk dirinya.
Mungkin rasa tenang itu seperti kopi, yang tak mampu merutuki air tapi mewarnai dan memberi wangi.

Pada mereka yang memberikan cerita, hanya tersisa halaman depan kata pengantar di buku kehidupan. Ada banyak bab yang perlu diisi. Biar bisa kuberikan dengan bangga tanda tanganku nanti.

Tetaplah berjalan,, matahari tidak akan menyalahi janji, ia selalu terbit di waktunya.

Stochastic level : March

image

Laugh love live

image

Just like the photo even though it’s against what we so called nature common sense, haha..

Sometimes you need to take the shield away from you, to let the warm light touching your soul.

And sometimes we just need to stay to let ourselves freed and discover who we really are..

Okey,, next chapter, fulfill it with journey to the dreamland and then decide to stay for ever and ever..